Detil Berita

  • 13 Feb
  • 2019

Di Mata Siswa, Perayaan Imlek Tidak Sekadar Mendapatkan Angpao

IMG-20190205-WA0030

Di sekolah kita, SMA Xaverius 1 Palembang, tidak sedikit merayakan Tahun Baru Imlek. Bahkan, boleh dibilang, sekolah dengan jumlah siswa sekitar 1500-an orang mayoritas merayakan Imlek.Atas konteks tersebut, selain libur nasional Selasa (5/2) Tahun Baru Imlek 2570, sekolah mengambil kebijakan pada hari Rabu (6/2) melanjutkan perayaan dengan menjalin silaturahmi dengan sanak keluarga.

Tulisan sederhana ini berangkat dari latar belakang 1) mayoritas siswa kita merayakan Imlek, dan 2) anggapan yang keliru di kalangan anak muda-remaja bahwa perayaan Imlek untuk mendapatkan angpao, walau hal ini sungguh diharapkan dan dinantikan anak-anak kita.

Atas asumsi yang terakhir di atas, penulis melakukan wawancara singkat dengan sejumlah siswa-siswi kita yang merayakan dan seorang siswi yang ikut merayakan di rumah temannya.

Nenek berusia 101 tahun

 

sanak saudara dan keluarga besar”, ujar Chai Nesia Natalia Susanti.

“Imlek tidak sekadar hari libur. Imlek merupakan lebih sebagai moment, kesempatan untuk berkumpul dengan Nesia, siswi kelas XII IPA-6 menuturkan walau banyak keluarga dari luar kota Palembang yang tidak datang dengan berbagai alasan yang masuk akal, namun perayaan Imlek di tengah keluarga berjalan dengan baik dan lancar. Itulah pengalaman yang berkesan bagi Nesia. Athai Nesia (ayah dari nenek Nesia) umurnya telah mencapai 101 tahun masih diberi kesempatan untuk boleh merayakan Imlek bersama dalam keluarga. Itulah yang membuat Nesia kagum.

IMG-20190205-WA0029

Secara rohani-spiritual, Nesia menyampaikan ujud doa dalam misa Imlek di Gereja St Yoseph bagi anggota keluarga yang di akhir tahun kemarin dipanggil Tuhan. Semoga sanak keluarga yang telah meninggal telah berbahagia bersama Bapa di surga.

Berbagi kasih

“Saya bersama keluarga pergi ke Prabumulih untuk makan malam tahun baru Imlek”, itulah yang berkesan bagi Cheryl, siswi kelas XII IPS-1 ini.

Sangat menyenangkan karena bisa bertemu dengan banyak orang, boleh berbagi kasih, mendapatkan banyak pengalaman, bisa membantu persiapan Imlek, dan bisa berkumpul dengan teman-teman yang sudah lama tidak bertemu. Selain itu, Cheryl sangat merasakan kasih sayang dan berbagi kasih dan berbagi berkat bagi sesama, saling membantu, menguatkan dan berbagi cerita, tentu saling berbagi kue, kesan Cheryl Misaela Tedjo, juga dirasakan oleh Callista Gunawan, siswi kelas XII IPS-1 ini.

Tidak makan daging

 

Leo Vernadesly, siswa kelas XII 12 IPA-7 menjelaskan secara singkat tentang Imlek. Imlek adalah perayaan tahun baru China. Dalam tradisi China, setiap tanggal 1 dianjurkan untuk tidak makan daging (vege). Anjuran ini tidak wajib, lebih bersifat fakultatif. Sebab tidak makan daging pada tanggal 1 atau 15 dalam penanggalan China diperuntukan bagi yang mau saja.

Pada perayaan Imlek sebelumnya ajakan untuk tidak makan daging, tidak berhasil. Pada tanggal 1 Imlek saya memakan daging ketika sanjo di rumah sanak keluarga. Ketika kunjungan ke rumah keluarga, di sana disuguhkan makanan yang enak, pempek. Namun, perayaan Imlek tahun ini berhasil dilewati dengan baik atas niat yang sungguh mendalam, “Saya tidak makan daging pada tanggal 1 tersebut,” jelas Leo.

Memaknai kebersamaan

IMG-20190205-WA0041

Bagi Nesia, moment Imlek merupakan kesempatan yang istimewa karena bisa berkumpul dengan banyak sanak keluarga, bermain, bercerita, makan bersama. Nesia meyakini bahwa “keluarga merupakan satu-satunya tempat kita belajar tentang arti dan makna sebuah kebersamaan.”

“Imlek tahun ini sangat berkesan tentunya”, kata Rio

Rio Oktavianes, siswa kelas XII MIPA-2 mengatakan dalam Imlek tahun ini banyak momen yang jarang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Berkumpul satu keluarga besar salah satu kesempatan yang mungkin jarang terjadi dalam satu tahun.

Hal itu, kata Rio bisa dipahami karena pekerjaan dan kesibukan masing-masing. Nah, di waktu Imlek inilah kita boleh berkumpul dengan keluarga besar.

Hujan membawa berkat

Walau tidak merayakan Imlek, Afra Avequita Antonius (kelas XI IPS 3), putri kelahiran Muara Enim mengatakan selalu mengunjungi teman-temannya semasa SMP di kampung halaman (Muara Enim) ketika perayaan Imlek.

Hujan deras dan teman-teman banyak yang berlibur ke kota sehingga perayaan Imlek tahun ini di Tanjung Enim terkesan tidak terlalu ramai jika dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hujan deras mengguyur Muara Enim pertanda membawa berkat di hari Imlek ini, kesan Afra.

Perayaan Imlek tahun ini cukup berkesan walau tidak semua anggota keluarga bisa berkumpul di Prabumulih, ujar Lidia Fatrin.

Belajar ikhlas memberi

Putri kelas XII IPA-7 yang menamatkan SMP Sta Maria Prabumulih ini menuturkan ketika Imlek rasa kebersamaan amat dirasakan. Kami boleh berkumpul bersama, ada keluarga dari Jakarta dan dari Batam. Nilai kebersamaan dalam keluarga, saling berbagi terhadap sesama keluarga, teman, dan para karyawan baik melalui makanan maupun angpao.

Dengan Imlek ini, aku Lidia pentingnya menghargai pemberian orang lain baik yang besar maupun kecil pemberian tersebut. Sekaligus belajar ikhlas ketika kita memberi sesuatu kepada orang lain.

Tidak hanya mencari angpao

Leo Vernadesly mencatat beberapa nilai yang ditemukan dalam perayaan Imlek: Pertama, Imlek yang banyak dipikirkan orang untuk mencari angpao menurut Leo kurang tepat. Imlek adalah momen untuk semakin mendekatkan diri pada Tuhan.

Kedua, perlu dihindari karena kesibukan oleh tugas dan pekerjaan bisa melupaka keluarga. Leo mencontohkan, biasanya Leo walau hari libur, Leo tetap belajar. Hampir setiap hari belajar dan mengerjakan tugas demi prestasi dan meraih mimpi (cita-cita). Maka, pada perayaan Imlek ini, Leo memutuskan stop belajar dulu dan memilih kumpul-ngobrol dengan keluarga.

Tidak main hp

“Seru dan senang bisa berkumpul dengan teman-teman satu stasi”, kata Afra. Kekeluargaan dan kebersamaan masih sangat terasa. Yang menarik, selama berkumpul tidak boleh memakai hp. Main hp bisa menghilang fokus percakapan. Jadi kami semua fokus dalam ngobrol.

Dengan silahturahmi dalam rangka Imlek ini, yang tadinya tidak saling kenal menjadi kenal, yang tadinya kenal kini semakin akrab, yang semula bermusuhan kita bisa berdamai kembali, kenang Gregorius Agung Kenedy, siswa kelas XII IPA-7.

Dalam suasana kebersamaan dan keabraban Imlek, Lidia Fatrin mendapat banyak saran dan masukan berkaitan kelanjutan studinya. Ada keluarga yang menyarankan Lidia kuliah di Jakarta, namun ada juga menyarankan Lidia untuk studi lanjut ke luar negeri. Banyak informasi yang diperoleh Lidia perjumpaan dan kebersamaan Imlek ini.

Angpao simbol keberkahan

IMG-20190206-WA0022

Bagi Rio, dari perayaan Imlek sendiri tentunya tidak terpisahkan dari ucapan Gong Xi dan sebuah Hong Bao (Angpao).Tentu pembagian angpao merupakan saat ditunggu-tunggu oleh anak-anak dalam perayaan Imlek. Wajah anak-anak sangat riang dan senang-gembira ketika mendapatkan angpao.

Angpao menurut Rio merupakan sebuah simbol yang dapat memperkuat relasi dan saling mendoakan untuk kesejateraan satu sama lain, bukan sekadar banyaknya isi angpao yang diperoleh melainkan kegembiraan dan keberkahan yang diberikan oleh orang dewasa (oran tua).

Akhirnya, Rio Oktavianes beserta keluarga mengucapkan gong xi da jia, xian nian kuai le![Ignas Iwan Waning]