Detil Berita

  • 22 Sep
  • 2018

ENERGI DI BALIK MENYERAH

Amat jarang seorang uskup di Indonesia ditulis biografinya. Mgr. Aloysius Sudarso, SCJ, sebagai seorang uskup Keuskupan Palembang, memperoleh kesempatan dihadirkan kisah hidupnya dalam sebuah biografi.

Untitled-1

   

                                                                                                                                          

Kisah hidup Mgr. Al diceritakan dalam buku biografinya, The Power of Menyerah, yang ditulis Elis Handoko, SCJ. Dalam buku tersebut, Mgr. Aloysius Sudarso dipanggil Al. Buku tersebut titik pijaknya pada spiritual yang dihidupi Mg. Al sebagai seorang imam dan sekaligus sebagai seorang uskup.

Selama perjalanan menjadi seorang imam dan seorang uskup, Mgr. Al mengalami tiga kali peristiwa di mana dirinya harus pasrah da nmenyerah.

Pertama,pada saat memilih bergabung menjadi seorang imam Hati Kudus Jesus (SCJ). Ketika duduk di Seminari Santo Paulus Palembang, Mgr. Al belum ingin bergabung dengan konggregasi SCJ melainkan justru menjatuhkan pilihan

padakonggregasi yang berkarya di Jawa. Mgr. Al hampirkeluardariseminarikarenakeputusanitukurangdirestuiformatornya di SeminariMenengah Santo Paulus. Akan tetapi, Mgr. Al harus mengendurkan egonya, menyerah dan memilih untuk menjadi seorang imam SCJ.

Kedua, pada saat menerima tugas yang tidak gampang; menjadi seorang uskup auxilier yang membantuMgr. Joseph Soudant, SCJ. Ketika ditunjuk sebagai seorang uskup auxilier, Mgr. Al merasa tidak pantas.

Mgr. Al merasa tidak pantas karena belum pernah menjadi seorang pastor paroki, sebagian besar karir imamatnya dihabiskan menangani pendidikan para calon imam.Sejak ditahbiskan menjadi imam SCJ, Mgr. Al menjadi formator di seminari menengah maupun seminari tinggi termasuk memimpin provinsi SCJ Indonesia.

Jabatan itu membuat Mgr. Al terguncang dan kalut.Di sebuah rumah retret milik konggrevasi SVD di Puncak, Jawa Barat, Mgr. Al merenungkan tugas itu dalam sebuah retret pribadi.Mgr. Al pun muncul penyerahan.“Kalau tidak menyerah, pasti saya akan selalu mengalami kegelisahan tanpa ujung”, cerita Mgr. Al. Penyerahan itu membuat Mgr. Al pasrah menerima tugas barunya sebagai uskup auxilier dan kemudian menjadi seorang uskup.

Ketiga, pada saat Mgr. Al jatuh sakit terkena stroke pada tahun 2015. Pada saat menderita sakit itu, Mgr. Al menyerah.“Menyerah bahwa ini merupakan sebuah kenyataan yang sedang terjadi pada dirisaya,” kata Mgr. Al. Mgr. Al menerima kenyataan itu dengan lapang dada.

Pada Minggu, 16 September 2018, buku biografi Mgr. Al diluncurkan dan dibedah di Xaverius Centrum Studiorum, Yayasan Xaverius Palembang. Selain Mgr. Al sebagai penuturnya, dua penutur diundang untuk membeberkan Mgr. Al dari sudut pandang yang berbedaya itu Dr. Hendro Setiawandan Dr. Yulius Sumardi, SCJ.

Untitled-2

 

 

 

 

 

 

 

Dr. Hendro Setiawan, pengusaha dan sekaligus tokoh awam di Keuskupan Agung Palembang, menuturkan tentang nilai-nilai hidup yang dihidupi Mgr. Al mempertandingkannya dengan nilai-nilai hidup dalam dunia modern. Dunia modern menawarkan nilai-nilai hidup seperti kompetisi, materialitas, dan berpusat pada manusia.Ujung dari nilai-nilai tersebut yaitu saling mengalahkan dan pengabaian terhadap solidaritas, pengejaran materi, dan egoisme dalam diri manusia.

Nilai-nilai tersebut jelas berbeda dengan nilai-nilai yang ditawarkan Mgr. Al. Mgr. Al menawarkan nilai-nilai hidup dan spiritualitas yang berpusat pada Tuhan, solidaritas, dan kepasrahan pada Tuhan. Karena berpusat pada Tuhan, menurut Hendro Setiawan, Mgr. Al mampu memasrahkan semua yang terjadi dalam dirinya kepada Tuhan.

Dr. Yulianus Sumardi, SCJ menuturkan Mgr. Al dari sisi psiko-spiritual.Mgr. Al menawarkan keutamaan-keutamaan hidup yang bisa dilacak sejak beliau belia hingga menjadi seorang uskup.RomoSumardi, SCJ misalnya menunjukkan bahwa kedua orang tua telah menumbuhkan benih-benih keutamaan itu. Misalnya,pada malam hari, sang ibu yang suka mendongeng tentang KlentingKuning dan Klenting Abang, dan sebagainya kepada anak-anaknya, termasuk kepada Al kecil.

Untitled-3

 

 

 

 

 

 

 

Foto: Wahyu Triharyadi, SCJ

Keutamaan-keutamaan hidup yang ditawarkan Mgr. Al kepadasemua orang terutama umat Katolik yang digembalakannya.Oleh karena itu, Romo Sumardi memandang bahwa diterbitkannya biografi Mgr. Al ini sungguh tepat.Di tengah budaya kematian yang menyeruak di tengah-tengah masyarakat, Mgr. Al menawarkan budaya damai, budaya mencintai kehidupan.

Mgr. Al telah menunjukkan bahwa sikap menyerah justru sikap orang beriman yang berani mengandalkan Allah. Jangan anggap hal itu bermakna kekalahan, melainkan kekuatan berharga di tengah ketidak pastian dunia sekarang ini.

(Herman Sunu Endrayanto)