Detil Berita

  • 07 Mar
  • 2020

Kekhasan Kepengurusan OSIS

IMG-20200116-WA0038
Para Uskup Indonesia, melalui MNPK (Majelis Nasional Pendidikan Katolik) melihat salah satu keprihatinan bangsa kita adalah lemahnya kepemimpinan.
Hal itu disampaikan oleh Ketua MNPK Pastor Dr Vinsensius Darmin Mbula, OFM dalam training of traniner (ToT) para pembina OSIS, kepala sekolah, dan wakil kepala sekolah bidang kesiswaan di Bogor (13/1-2020).

Atas keprihatinan lemahnya kepemimpinan, baik di tingkat pusat maupun daerah, entah sebagai eksekutif,yudikatif maupun legislatif maka MNPK berinisiatif untuk memberi perhatian khusus terhadap aspek kepemimpinan melalui sekolah-sekolah Katolik tingkat SMP dan SMA/K.

Pentingnya Kepemimpinan

Wadah yang sudah terbentuk di setiap unit sekolah (SMP dan SMA) adalah OSIS (Organisasi Siswa Intra Sekolah). OSIS merupakan organisasi resmi yang diakui keberadaan di sekolah. Maka para pengurus OSIS hendaknya terus dipantau dan menjadi orientasi kepedulian pendidikan Katolik baik MNPK maupun MPK (Majelis pendidikan Katolik) tingkat Keuskupan. Setiap unit sekolah Katolik hendaknya bergerak bersama menekakan pentingnya kepemimpinan dalam diri para pengurus OSIS.

Dengan tegas, Pastor Darmin Mbulamenekakan bahwa “sesungguhnya, salah satu kekhasan pengurus OSIS adalah kepemimpinan”. Warna kepemimpinan itulah yang tidak boleh hilang dalam proses pembinaan atau pendampingan bagi para pengurus OSIS.

Menjadi pemimpin tidak mutlak karena bakat atau talenta bawaan sejak lahir. Potensi atau bakat kepemimpinan dalam diri seseorang perlu dilatih sehingga kelihatanlah bakat-bakat kepemimpinannya, khususnya dalam diri peserta didik.Hal ini disampaikan secara tersirat oleh narasumber selama pelatihan Bapak Frans Lim.

Saya pribadi merasa berterima kasih boleh diikutkan dalam pelatihan selama 4 hari (11-14 Januari 2020) di Grand Cempaka Bogor.Peserta dari Keuskupan Agung Palembang berjumlah 8 orang yang terdiri dari SMA Sint Carolus Bengkulu (1 orang), SMA St Yoseph Lahat (1 orang), SMP Xaverius 6 Palembang (2 orang), SMP Xaverius 1 (1 orang), SMP Indriasana (1 orang), SMA Xaverius 2 (1 orang) dan SMA Xaverius 1 (1 orang).

Pengalaman perjumpaan dengan para peserta lintas keuskupan memacuh saya untuk tekun mengikuti sesi demi sesi. Pantas disebut di sini, peserta yang paling banyak datang dari Keuskupan Agung Medan dan Keuskupan Agung Pontianak (Kalbar). Tidak lupa, satu-satu peserta dari Sorong Papua, Bapak Andreas Mayabubun. Peserta yang datang paling jauh, yang mengikuti pelatihan.

Sesi demi sesi terasa cukup padat. Secara pribadi, saya mengikutinya dengan cermat dan sungguh-sungguh. Semula saya berpikir bahwa selama pelatihan nanti pasti membosankan karena akan berhadapan dengan materi presentasi dan sebagainya.

Sejujurnya, sejak awal saya dilema antara mau ikut atau tidak ikut dalam pelatihan tersebut. Perasaan malas muncul. Malas karena saya berpendapat bahwa para peserta ToT akan disuguhi konsep-konsep kepemimpinan. Jika hanya penyampaian teori tentang kepemimpinan, bagi saya cukup menjenuhkan. Namun apriori saya keliru. Sejak perkenalan awal dengan narasumber, Pak Frans Lim, yang sangat ceria dan lincah serta cekatan membuat 120 peserta terpikat. Trik yang diekspresikan pak Frans Lim sangat memukau, menggugah, dan menginspirasi.
IMG-20200116-WA0074
Sungguh menyenangkan selama pelatihan kepemimpinan bersama Bapak Frans Lim. Tidak membosankan. Tidak jenuh. Selalu menarik dan menginspirasi.Apa buktinya bahwa penyajian dan metode Pak Frans sangat menarik? Jujur, selama sesi berlangsung, para peserta enggan meninggalkan ruang pertemuan. Rasanya, jika tidak mengikuti sesi demi sesi dengan saksama maka akan kehilangan moment.

Pak Frans Lim tidak menyajikan konsep-konsep kepemimpinan. Motivator dan leadership training ini justu mengajak dan menghantar para peserta bagaimana menjadi pemimpin sejati.

Butuh trik
Menjadi pemimpin sejati membutuhkan trik. Pemimpin hebat membutukan cara dan teknik bagaimana menjadi pemimpin. Kiat-kiat itu, saya temukan dalam pelatihan dan menjadi modal yang baik untuk pengembangan dan tindak lanjut di unit sekolah dan keluarga.

Mengakhiri catatan ringan ini, saya mengutip pedoman kepemimpinan yang merupakan salah satu materi yang didalami cukup serius oleh Bapak Frans Lim.
Bagi Frans Lim, pedoman kepemimpinan: “satu berbicara yang lain mendengarkan; semua guru semua murid; peduli pada orang lain dan orang miskin; kritis, aktif, kreatif, bertanggung jawab; sederhana, jujur dan rendah hati; tak mau ada yang tidak beres; dan saling pinjamkan kekuatan.”
Pastilah, untuk memahami secara lebih tepat dan efektif pedoman di atas membutuhkan strategi atau trik tertentu dalam sebuah pelatihan.*** [Ignas Iwan Waning]