Detil Berita

  • 05 Aug
  • 2019

Menghayati Visi Sekolah Secara Bersama

20190725_093928

Tidak kurang dari 700 peserta menghadiri workshop bagi guru dan karyawan pada Yayasan Xaverius Palembang. Seluruh guru dan karyawan diundang baik yang berkarya di unit TK, SD, SMP, SMA dan SMK Xaverius.

“Menjadi sekolah yang subur di era 4.0.” Itulah tema sentral workshop sehari (Kamis, 25 Juli 2019) di Gedung Yayasan Xaverius Centrum Studiorum.  Lokakarya ini dengan menghadirkan narasumber tunggal Bapak Albertus Firharsono.

Pegiat pendidikan

Lokakarya pada hari ini sedikit berbeda dibandingkan lokakarya sebelumnya. Kegiatan hari ini para peserta mendapat masukkan dari narasumber selain berupa konsep dasar, sharing pengalaman atas pergulatan narasumber selama berkarya di bidang pendidikan di Papua atau studi lanjut di Amerika dan Australia, para peserta diajak untuk mendalami topik demi topik dalam kelompok yang berdasarkan unit kerja masing-masing, jelas Ketua Dewan Pengurus Yayasan Xaverius Palembang, Romo Domi Koro, Pr.

Dalam sambutannya, Romo Domi Koro menekankan bahwa sekolah yang subur mengandaikan visi sekolah yang kuat, kerja sama sekolah dengan orangtua siswa, sadar bahwa siswa-siswi memiliki keunikan atau kekhasannya, dan kemampuan guru atau pendamping dalam memahami keunikan-kekhasan para peserta didiknya.

Berubah untuk berbuah

Kita semua sepakat dan berkomitmen untuk pembaharuan dan pembenahan di semua bidang. Kita harus menciptakan suasana yang positif baik dengan rekan kerja maupun dengan para siswa. Komitmen bersama untuk melangkah maju dengan perubahan konkret maka dapat diharapkan akan berbuah manis, ada hasil positif yang konkret dan efektif.

Bagaimana agar sekolah-sekolah kita tetap eksis? Itulah salah satu pertanyaan awal yang menggugah dan menjadi refleksi awal dalam mendalami tema menjadi sekolah yang subur. Kerendahan hati sangat dituntut dari setiap pribadi untuk menunjang unit sekolah yang subur. Dari sanalah akan terpancar aura positif dari dan bagi siapapun: guru, karyawan, siswa dan siapapun tamu atau orangtua siswa yang datang-masuk sekolah.

Sdr Albertus hendak membagikan kekayaan akan pengalaman dan komitmen dalam dunia pendidikan. Beliau adalah rekan seperjuangan Romo Gading saat belajar bersama di Seminari St Paulus Palembang sekitar 23 tahun lalu.

Kalimat awal yang kelar dari mulut Pak Albertus, “Saya berdiri di sini hendak berbagi pengalaman dan saling belajar.” Sebuah ungkapan yang tulus dari pribadi yang rendah hati dan cerdas. Itulah sdr Albertus yang kini sedang menyelesaikan studi S3 di Indigenous Education, University of the Sunshine Coast, Australia, tahun 2017 – sekarang (Beasiswa Australia Awards).

Harus memiliki kekhasan
20190725_093925
Agar perjumpaan kita dalam sehari ini bisa bermakna dan bermanfaat secara efekstif maka diantara sesi kita diminta parsipasipasi aktif untuk merancang dan merencanakan aksi yang nyata-real untuk membuat perubahan. Perubahan bersama dan komitmen atas perubahan merupakan cikal bakal untuk bisa bersaing. Agar sekolah kita bisa bersaing maka unit sekolah kita masing-masing , mau atau tidak, harus memiliki kekhasan.

Perlu diwaspadai terutama bagi orangtua dan guru yang mengharapkan anaknya atau peserta didik hanya fokus pada nilai akademik (nilai rapor harus bagus, NEM harus tinggi, rangking). Pak Albertus justru menunjukkan hasil yang mengejutkan berdasarkan hasil survei.

Yang utama kejujuran

Thomas J. Stanley memetakan 100 faktor yang berpengaruh terhadap tingkat kesuksesan seseorang berdasarkan survei terhadap 733 millioner di US. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ternyata nilai akademik yang baik hanyalah faktor sukses urutan ke-30. Lebih lanjut, IQ menjadi faktor sukses urutan ke-21.

Kesuksesan seseorang sangat kuat dipengaruhi oleh nilai kejujuran, kedisiplinan, dan mudah bergaul. Itulah 3 faktor teratas berdasarkan survei Thomas Stanley dalam meraih kesuksesan seseorang.

Dalam penjelasana lanjutan Pak Albertus mengatakan tidak salah menekankan aspek intelektual. Pola pendidikan yang hanya menekankan aspek intelektual-rasional tentu akan menghasilkan anak atau peserta didik yang pincang, tidak seimbang.

Atas dasar itulah dalam salah satu sesi pak Albertus mengingatkan kembali 8 jenis inteligensi berdasarkan telaahan Howard Gardner (1993) yakni linguistik, logika-mathematical, spasial, musikal, kinesthetic, interpersonal, intrapersonal, dan naturalist.

Itulah konsep multiple intelligence diterima dengan sangat baik dalam dunia pendidikan karena memberikan pemahaman bahwa setiap anak berbeda. Implikasinya adalah bahwa setiap siswa dipandang memiliki learning styles dan learning needs yang berbeda dan perlu diakomodasi dalam proses pembelajaran.

Visi yang kuat

20190725_093932

Bagaimana agar sekolah kita subur? Visi yang kuat, orangtua terlibat, multiple-Inteligence: memahami jenis benihnya, differensiasi/individualisasi sebagai pola tanam dan perawatannya, suasana positif dan supportif sebagai pupuknya. Itulah 5 jawaban jitu yang bisa ditawarkan atau dibagikan dalam kesempatan workshop sehari bersama pak Albertus.

Kelima hal itu telah diulas secara gamblang dan diperkaya dalam diskusi kelompok dari masing-masing unit sekolah. Dan, dicanangkan semua program yang produktif demi kemajuan sekolah-sekolah Xaverius akan terus dievaluasi dan digodok serta diperdalam oleh tim litbang Yayasan Xaverius Palembang yang kini telah diperkuat personilnya. Majulah sekolahku, majulah yayasanku.

[Ignas Iwan Waning]