Detil Berita

  • 19 Aug
  • 2019

Romo Gading Sianipar, Empat Himbauan Bagi Guru

IMG-20190815-WA0022

“Merdeka! Merdeka! Semangat ya!”. Itulah pekikan Romo Gading mengawali homilinya yang berdurasi 17 menit.

Perayaan Ekaristi Koordinasi SMA-SMK Xaverius Kota Palembang rutin dilaksanakan setiap 15 Agustus. Misa koordinasi tahun ini yang diselenggarakan di Gereja St Yoseph Jln Sudirman (Kamis, 15/8) dengan tema “Merajut keragaman hidup dalam suasana persaudaraan sebagai suatu bangsa yang merdeka.”

Misa yang dipimpin Romo Dominggus Koro ini dengan 2 itensi khusus yakni mengucap syukur dan mohon berkat Tuhan untuk proses kegiatan belajar mengajar 2019-2020 dan menyongsong HUT ke–74 RI.

Umat memadat Gereja St Yoseph. Semua bangku terisi. Para siswa-siswi, para guru dan karyawan yang beragama Katolik dari SMA Xaverius 1, SMA Xaverius 2, SMA Xaverius 3, dan SMA Xaverius 4, SMK Xaverius dan Seminari St Paulus.

Imam koselebran Romo Dominggus Koro (Ketua Dewan Pengurus Yayasan Xaverius Palembang), Romo Stefanus Surawan (Bendahara Dewan Pengurus Yayasan Xaverius Palembang), Romo Gading Sianipar (Direktur Badan Pelaksana Harian Yayasan Xaverius Palembang), Romo Petrus Sugiarto (Rektor Seminari St Paulus Palembang), Romo Markus Edi (Pastor Kapelan Paroki St Yoseph Palembang).

Sejalan dengan seruan Surat Pertama Rasul Petrus, Romo Gading mengutip memaknai kemerdekaan RI bagi kita yakni hiduplah sebagai orang merdeka dan bukan menyalahgunakan kemerdekaan itu untuk menyelubungi kejahatan. Hiduplah sebagai hamba Allah. Hormati dan kasihilah semua orang.

Tidak menutupi kejahatan kita. Tetapi sebaliknya, tunjukkan kebaikan-kebaikan, tegas Romo Gading.

Analogis

Dalam praksis hidup, kita ditawarkan pada 2 pilihan yakni sebagai lalat atau lebah. Hidup sebagai lalat yang cenderung tertarik pada hal-hal yang kotor, busuk. Lalat suka membawa bakteri dan virus. Ciri hidup yang menerupai lalat adalah orang yang suka akan hal-hal yang jelek, gosip, ladas, benci nian, dan orang yang terarik pada hal-hal yang jelek dan jahat, jelas Romo Gading.

Sebaliknya, marilah kita semua berjuang untuk hidup ibadat lebah. Lebah sangat antusias akan hal-hal yang baik, yang bermanfaat. Lebah suka bunga. Lebah senang akan yang bersih. Akhirnya, semua lebah menghasilkan madu. Madu akan memberikan energi.

Hidup seperti lebah selalu mengedepankan kebaikan dan kebenaran. Hidup sebagai lebah sangat antusias akan hal yang baik dan mengerjakan hal yang bisa dikerjakan. Itulah analogi sederhana lalat dan lebah yang dipaparkan oleh Romo Gading dalam homilinya. Kita pasti memilih lebah kan?, tegasnya.

Marilah kita tetap menciptakan kelas atau sekolah menjadi rumah yang nyaman bagi para peserta didik. Semoga semua sekolah kita menjadi sekolah yang menjadikan semua peserta didik dapat bertumbuh dan berkembang serta antusias untuk mengembangkan prestasi sesuai dengan talentanya masing-masing.

Produktif

IMG-20190815-WA0023

Dengan semangat persaudaraan dan persahabatan hindari (dan tidak boleh) di antara kita untuk saling membully. Tidak ada saling menganiaya antara senior kepada yunior. Tidak boleh dan tidak akan ada di sekolah-sekolah kita. Sekolah-sekolah kita bersih dari kekerasan-kekerasan satu sama lain.

Pada hakikatnya, kehadiran guru membawa kebaikan. Sekolah mempunyai harapan untuk bertumbuh dan berkembang ke hal-hal positif dan produktif. Atas dasar itu, hendaknya para guru yang berkarya di sekolah-sekolah Xaverius menghayati hal-hal berikut.

Pertama, profesi guru merupakan panggilan hidup. Panggilan utama seorang guru dengan menjunjungi tinggi semangat pelayanan. Bangga dan berbahagialah menjadi guru yang penuh dedikasi dan cinta.

Kedua, profesionalitas. Peran guru yang tak bisa diabaikan adalah profesionalitas. Contoh, teladan, dan tanggung jawab menjadi tuntutan mutlak bagi guru yang profesional. Bapak ibu guru, hendaklah teruslah belajar untuk memperbaharui kompetensi. Perbaiki dan perbaharui cara mengajar, ajak Romo Gading.

Ketiga, terbuka terhadap perubahan. Era industri 4.0 mengharus kita semua berjuang dan belajar terus menerus agar bertahan dan tetap hidup. Guru memahami sarana yang dibutuhkan dalam proses belajar mengajar. Tekun dan perbaharui kualitas mengajar kita, perkayalah materi atau bahan ajar kita. Guru mestinya teruslah berubah dan beradaptasi terhadap tantangan dan riakan ombang.

Keempat,kolaborasi atau kerja sama. Marilah sekolah-sekolah Xaverius untuk maju bersama. Ayo bergandenan tangan. Kita saling dukung. Hindari saling bersaing dan menjatuhkan, papar Romo Gading.

Sesama sekolah Katolik saling berkolaborasi. Bangkitlah untuk merajut kerja sama demi kemajuan sekolah.**

[Ignas Iwan Waning]