Detil Berita

  • 20 Sep
  • 2019

Teguh Rahayu, Teguh dalam Prinsip dan Unggul dalam Ketelitian

Segala sesuatu ada waktunya. Ada masa untuk berkarya dan ada kesempatan untuk purnakarya, pensiun.
Khusus 2019, tenaga pendidik dan kependidikan yang tidak lagi berkarya di SMA Xaverius 1 adalah Pak Drs Ade, Pak Drs Y Subardan, dan Pak Teguh Rahayu telah berkarya di SMA ini dalam waktu yang relatif lama. Mereka telah pamit secara resmi Senin (15/7).
Secara bergantian, MC (Pak Eko) mempersilahkan masing-masing yang hendak pamit menyampaikan sambutan singkat. Mulai dari Pak Ade, Pak Bardan, Pak Teguh. Tak ketinggalan sambutan dari Pak Jindro selaku Wakasis untuk menyerahkan tanggung jawabnya kepada Pak Eko. Dan penutup kata sambutan dari Kepala Sekolah, Ibu Estri.

Mencatat
Sungguh, di luar kebiasaan saya. Saya biasanya menulis sesuatu hal yang penting berdasarkan apa yang saya lihat, dengar pada lembar, secarik kertas lepas. Setelah ditulis secara utuh-lengkap, umumnya,kertas-kertas lepas itu saya buang. Proses itu bagi orang yang berkecimpung dalam dunia jurnalistik dikenal dengan namahot-spot. Hot-spot menjadi titik berangkat sebuah tulisan. Hal itu dicatat agar tidak lupa. Bahkan, hot-spot menjadi ilham pengembangan sebuah gagasan.
Kembali ke atas, mengapa pokok-pokok sambutan para sesepuh saya tidak mencatat seperti lazimnya? Entahlah. Apakah karena kelelahan menyimak sesi sebelumnya, materi yang disampaikan oleh kepala sekolah dan wakakur.
Sore harinya, sesampai di rumah, saya berpikir-bermenung-bertanya mengapa peristiwa pelepasan para senior tadi tidak saya catat gagasan pentingnya yang mereka sampaikan. Padahal luar biasa berisi dan bermakna.

Menulislah
Ide itu terus berkeliaran. Tak disangka, 3 minggu setelahnya, Pak Purwanto selaku admin website sekolah bertanya, “Apakah Pak Ignas menulis tentang acara pelepasan dengan guru dan pegawai yang pensiun? Saya ada foto-fotonya, lanjut Pak Pur.
Sebetulnya saya ingin menulis peristiwa tersebut tetapi saya lupa apa saja inti yang mereka sampaikan. Paling tidak tulisan tentang para senior sebagai kenangan. Ada secuil yang perlu didokumentasikan. Begitulah jawaban singkat saya kepada Pak Pur.
Saya berusaha untuk menulisnya. Saya butuh waktu. Saya perlu mewawancara singkat dengan mereka. Semoga mereka tidak keberatan. Saya menghubungi Pak Ade, rupanya beliau sudah pamit juga dari grup wa guru. Saya hubungi Pak Grahito dan Ibu Yosepha untuk mendapatkan no wa dari Pak Ade. Ibu Yoseph lebih cepat merespon secara positif.

Semakin profesional
Selanjutnya saya menghubungi Pak Bardan lewat wa pada Kamis (8/8), yang kebetulan tengah sibuk dengan tugas barunya. Di tengah kesibukan menghadiri pertemuan di Bali, Pak Bardan membalas wa saya pada Jumat (9/8), “Kurang lebih yang saya sampaikan adalah jadilah guru yang semakin lama semakin baik, semakin profesional. Ibaratnya guru adalah peziarah.”
Lebih gampang meminta informasi ulang dari Pak Jindro, karena hampir tiap hari masih bertemu di ruang guru. Pak Jindro menjawab, “bisa beri saya waktu untuk mencatat dalam secarik kertas. Semoga besok sudah beres”. Besoknya saya mencapat 2 lembar kertas kecil berisi pokok-pokok sambuatnya selaku Wakasis yang hendak berakhir dan selanjutnya estafet tanggung jawab itu dipercayakan kepada Pak Eko. [Hal ini saya garap secara khusus dalam tulisan yang berjudul: Tongkat estafet kepemimpinan dari Bapak Sujindro kepada Bapak Recardus Eko: silahkan berkreasi dan berinovasi].
Beberapa hari kemudian, saya bertemu dengan Pak Teguh di dekat parkiran motor para guru-karyawan. Saya mendekati beliau dan memohon kesediaan untuk mencatat point-point penting yang ia sampaikan saat sambutan pelepasan.
Sambil senyum khasnya, beliau bertanya “apa masih perlu saya menulis sambutan itu?” Iapun berjanji siap dan mohon diberi waktu.
Hampir semingguan, setelah kesepakatan awal, saya masih berpapasan dengan Pak Teguh. Naskah sudah ada tapi masih di kantor TU SMA Xaverius 4. Besok ya, janjinya. Sayapun mengiyakan.
Saat keluar dari ruang kelas lantai 2, saya bertemu dengan Pak Teguh di depan teras kantor TU SMA Xaverius 4. Sambil senyum, ia mengajak, ayo Pak Ignas masuk ke kantor. Saya masuk, dan beliau bergegas memprint naskah yang beliau sudah ketik di komputer kerjanya.
Di luar dugaan saya, saya kira hanya tulisan tangan yang akan ia berikan kepada saya tapi sebuah lembar kertas F4 berisi (persis) sambutan yang ia sampaikan di ruang pertemuan saat pelepasan. Pada titik ini, Pak Teguh masih ingat dengan baik-persis apa yang diucapkan saat sambutan perpisahannya. Padahal hadirin tahu, saat menyampaikan sambutan itu, beliau menyampaikan tanpa teks, rileks, santai, tapi membuat bapak ibu guru karyawan tertawa terpingkal-pingkal.
Guyunan, rasa humur yang tinggi membuat banyak terhibur dan tertawa. Itulah awal mula saya bertanya dan yakin, rupanya Pak Teguh adalah seorang yang humoris.

Humoris
Saya terkejut ketika, pada giliran ketiga, Pak Teguh menyampaikan sambutannya. Bagi saya, pak Teguh adalah orang yang serius, pendiam (dan pasti tidak banyak kata-kata yang keluar dari mulutnya).
Walau saat berpapasan di teras atau di halaman sekolah, paling senyum saja. Jika saya ke kantor TU, paling hanya saling memandang. Secara lebih intensif, beberapa kalimat keluar dari mulutnya ketika saya lebih sering berkomunikasi dengan beliau berkaitan dengan tugas saya sebagai ketua pelaksana pelepasan siswa-siswi kelas XII, yang puncaknya pada Kamis (25/4/2019). Saat itupun, seperti biasanya, Pak Teguh yang saya kenal adalah Pak Teguh yang pendiam, serius, dan pelit dalam kata-kata.
Rekan kerja sekantornya sejak 2001, Ign Purwanto menulis lewat wa kesannya tentang Pak Teguh. “Pak Teguh itu sabar, rendah hati, dan teliti”.
“Awalnya saya mengenal Pak Teguh, saya kira orangnya pendiam dan kaku, tapi ternyata tidak. Beliau orang yang kocak. Bisa mencairkan suasana”, tulis Bu Afsari.

Tidak pelit ilmunya
Hampir 2 tahun bu Afsari bekerja sama dengan Pak Teguh di Kantor TU SMA Xaverius 1 Palembang. “Kalau hal-hal yang pantas diteladani dari Pak Teguh antara lain ketelitiannya. Apalagi menyangkut pekerjaan, beliau tidak pelit ilmunya. Ia selalu mengajar kami.” Itulah sosok Pak Teguh di mata bu Afsari.
Dalam sambutan sebagai Kepala Sekolah, Ibu Estri mengatakan sekaligus mengakui keunggulan dari sosok Pak Teguh, “Pak Teguh adalah salah satu penulis dokumen yang sangat teliti. Hampir pasti, apa yang ditulisnya tak ada kesalahan. Sangat teliti dan hasilnya sempurna.”
Beberapa cuplikan sambutan Pak Teguh yang penuh guyonan. “Terima kasih atas waktu dan kesempatan yang diberikan. Berhubung sambutan ini waktunya hanya 5 menit, maka sambutan saya yang pertama seperti yang telah disampaikan oleh Pak Ade dan sambutan saya yang kedua seperti yang telah disampaikan oleh Pak Bardan.”
“MC (Pak Eko), Bapak harus bicara …”
Jawaban jitu dari Pak Teguh, “Saya ini bicaranya irit, lha kok disuruh bicara di depan orang banyak, nanti saya bisa seperti dispenser — panas — dingin.”
Pak Teguh mulai bekerja di SMA Xaverius 1 tahun 1985. Sebagai tenaga honorer dengan penghasilan Rp 30.000,- / bulan. Jumlah yang cukup saat itu bagi Pak Teguh. Sekadar perbandingan, biaya angkot sekali jalan hanya Rp 100,-

Keteladanan guru
Hal lain yang cukup menggelitik. Terbersit pentingnya nilai keteladan guru yang adalah publik figur bagi peserta didik. Kata dan tindakan seorang guru mestinya seiring dan sejalan.
“Waktunya sudah 5 menit Pak Eko? Dijawab 2 menit lagi oleh Pak Eko!”
“Lima itu begini (saya menunjukkan 5 jari) terus saya bilang, di sebuah SMA ada seorang guru yang menyuruh siswanya, coba nak sebutkan 3 penyebab banjir, sambil guru tersebut menunjukkan 5 jarinya. Anehnya, di bibir-mulut bilang 3 tapi di tangannya menunjukkan 5 jarinya. Lha, kalau gurunya saja bingung, maka siswanya bisa lingsung. Hal ini bukan terjadi di SMA ini tapi di SMA lain.”
Selain itu, Pak teguh menceritakan hikmah dari mutasi. “Lima bulan saya bekerja di SMA Xaverius 1, saya dimutasi ke SMP Xaverius 2. Mutasi itu merupakan berkah. Ketika saya dimutasi ke SMP Xaverius 2, maka honor saya bertambah menjadi Rp 50.000,- Setelah 5 tahun bekerja di SMP Xaverius 2, saya dimutasi lagi (tahun 1990) ke SMA Xaverius 1 Palembang sampai akhirnya purnabakti atau pensiun.”

Diakhiri dengan pantun
Mengakhir sambutannya Pak Teguh mengatakan, “Bapak, ibu selama kurun waktu lebih dari 30 tahun saya bekerja di SMA Xaverius 1 ini tentu banyak tingkah laku, perbuatan, tutur kata, kesalahan yang saya buat. Untuk itu maka dalam kesempatan ini saya mohon maaf.”
“Terakhir saya akan berpantun, —- Seiman dengan kekasih — sekian dan terima kasih.”
[Ignas Iwan Waning]